Kamis, 08 November 2012

HOT NEWS

TONTI PUTRA

   Pada tanggal 28 Oktober 2012 kemarin SDIT Tunas Mulia telah mengikuti lomba Pasukan Baris Berbaris yang dilaksanakan di komplek Pemerintah Daerah Gunungkidul. Acara ini diselenggarakan oleh Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga Kab. Gunungkidul dalam rangka memeperingati Sumpah Pemuda tahun 2012. Pesertanya yaitu  sekolah-sekolah seluruh kabupaten Gunungkidul dari tingkat SD sampai SMA sederajat.

 Tidak Mengecewakan Tetap Menjadi KEBANGGAAN
TONTI PUTRI
 
“Alhamdulillah, kami tetap bangga dengan anak-anak” ujar Kepala SDIT Tunas Mulia.  Sedikit kami menginput informasi dari beliau mulai dari persiapan sampai akhir pelaksanaan lomba.

 
Acara yang cukup bergengsi ini tentu saja tidak akan dilewatkan pihak SDIT Tunas Mulia karena kesempatan emas kapan lagi datangnya? Apalagi kesempatan untuk mengukir prestasi seluas mungkin tanpa batasan. Untuk itu beberapa upaya tetap dilakukan.

Ribetnya persiapan.....

Minggu pertama tanggal 10 Oktober 2012 tim kesiswaan melakukan tahap seleksi untuk siswa yang yang akan dipilih menjadi peserta Tonti perwakilan dari SDIT TM.  Satu hari penuh digunakan untuk membentuk formasi 24 peserta Tonti Putra dan 24 peserta Tonti Putri (wakil siswa kelas IV dan V). Memeras keringat, fikiran dan tenaga. Ya tentu saja, dalam dua minggu semua harus siap. Padahal idealnya untuk persiapan pasukan Tonti sendiri membutuhkan waktu minimal dua bulan. Tapi itu semua tidak dijadikan alasan untuk berhenti melangkah, pihak SDIT TM sepakat untuk mendatangkan pelatih dari Kodim Wonosari (pendamping eksternal). Selama dua minggu anak-anak dilatih. Tim pendamping Tonti Putra dan Tonti Putripun (pendamping internal) berusaha keras dan tetap stand by untuk mendampingi putra-putri mereka. Semangat anak-anak sangat luar biasa, meskipun ada yang sering drop dipertengahan latihan mereka tak berhenti untuk bangkit lagi. Pernah kami mendengar ungkapan  dari salah satu peserta yang sedang istirahat karena sakit, waktu itu terakhir latihan dengan mengenakan seragam, “ aku sudah sembuh ustadzah, sudah tidak pusing lagi aku mau ikut nyoba latihan dengan memakai seragam.” ujarnya (Azizain Fathkhoiron Agusta kelas V/A). Luar biasa dia masih pucat dan lemah, tapi setelah melihat energi positif semangat dari teman-temanya diapun tak mau kalah.

Tidak kalah serunya disisi lain dari persiapan tersebut yaitu perlengakapan seragam. persiapan agak ribet karena seragam yang ada tidak lengkap, jadi kita masih kesana-kemari untuk mencari yang belum ada. Bahan  untuk menyesuaikanpun sulit dicari. Namun, beberapa peranan dari ustad dan ustadzah yang lain sangat membantu kami, pada akhirnya semua bisa sesuai dengan harapan. Ya dengan kekuatan kesana-kemari itu .” ujar dari kesiswaan (Ustadzah Siti Asmawati, S.Pd.Si).



Tiba saatnya hari pelaksanaan lomba.....

Tim Tonti Putra mendapatkan nomor urut 20 dengan nomor dada 13. Sedangkan tim Tonti Putri mendapatkan nomor urut 5 dengan nomor dada 8. Cukup jauh jarak nomor urut mereka. Namun, tidak menjadi masalah. Mereka memanfaatkan waktu sebaik mungkin, tim Tonti Putra dilatih dan terus berlatih disela-sela waktu mereka menunggu untuk maju, beberapa masukan dari ustad dan ustadzah diberikan untuk bekal mereka ketika tampil. Begitu pula tim Tonti Putri ustad dan ustazdah yang lain siap siaga mendampingi dan memberi semangat untuk mereka.“alhamdulillah selamat njih bu, sempurna anak-anak bisa kompak. saya ikut deg-degan ketika melihat penampilan mereka tapi luar biasa saya bangga.” Ujar dari salah satu wali murid yang ikut mengahadiri sekaligus mendampingi putra-putri mereka.



Kekompakan para ustad dan ustadzah serta tekad dan semangat dari anak-anak semua itu menjadi kekuatan tersendiri. Menjaga ukhuwah dengan para wali murid untuk mengkondisikan persiapan fisik anak-anak, semua memberikan kesan yang begitu indah dan bermakna. Pada hari minggu kemarin anak-anak membuktikan potensi yang mereka miliki. Tak rasakan panasnya terik matahari, lapar dahaga tak menjadi penghalang. Subhanallah................ S.D.I.T Yessss.....Allahuakbar!!!!!!!!!

 
Berikut adalah hasil dari LOMBA BARIS BERBARIS pada hari Minggu 28 Oktober 2012 :



1. Pasukan Tonti Putra Juara Harapan Satu, Komandan Pleton Ananda Rofif Zuhdi M.D juara terbaik no.3

2. Pasukan Tonti Putri no. 7, Komandan Pleton Ananda Defianisa Lutfiandini no. 4







Ki Hadjar Dewantara(Sang Bapak Pendidikan)



Ki Hadjar Dewantara
Raden Mas Soewardi Soerjaningrat (EYD: Suwardi Suryaningrat, sejak 1922 menjadi Ki Hadjar Dewantara, EYD: Ki Hajar Dewantara, beberapa menuliskan bunyi bahasa Jawanya dengan Ki Hajar Dewantoro; lahir di Yogyakarta, 2 Mei 1889 – meninggal di Yogyakarta, 26 April 1959 pada umur 69 tahun[1]; selanjutnya disingkat sebagai "Soewardi" atau "KHD") adalah aktivis pergerakan kemerdekaan Indonesia, kolumnis, politisi, dan pelopor pendidikan bagi kaum pribumi Indonesia dari zaman penjajahan Belanda. Ia adalah pendiri Perguruan Taman Siswa, suatu lembaga pendidikan yang memberikan kesempatan bagi para pribumi jelata untuk bisa memperoleh hak pendidikan seperti halnya para priyayi maupun orang-orang Belanda.
Tanggal kelahirannya sekarang diperingati di Indonesia sebagai Hari Pendidikan Nasional. Bagian dari semboyan ciptaannya, tut wuri handayani, menjadi slogan Kementerian Pendidikan Nasional Indonesia. Namanya diabadikan sebagai salah sebuah nama kapal perang Indonesia, KRI Ki Hajar Dewantara. Potret dirinya diabadikan pada uang kertas pecahan 20.000 rupiah tahun emisi 1998.[2].Ia dikukuhkan sebagai pahlawan nasional yang ke-2 oleh Presiden RI, Soekarno, pada 28 November 1959 (Surat Keputusan Presiden Republik Indonesia No. 305 Tahun 1959, tanggal 28 November 1959)[3].


Sumber:Wikipedia bahasa Indonesia
Sumber:Wikipedia bahasa Indonesia




Masa muda dan awal karier
Soewardi berasal dari lingkungan keluarga Keraton Yogyakarta. Ia menamatkan pendidikan dasar di ELS (Sekolah Dasar Eropa/Belanda). Kemudian sempat melanjut ke STOVIA (Sekolah Dokter Bumiputera), tapi tidak sampai tamat karena sakit. Kemudian ia bekerja sebagai penulis dan wartawan di beberapa surat kabar, antara lain, Sediotomo, Midden Java, De Expres, Oetoesan Hindia, Kaoem Moeda, Tjahaja Timoer, dan Poesara. Pada masanya, ia tergolong penulis handal. Tulisan-tulisannya komunikatif dan tajam dengan semangat antikolonial.
Aktivitas pergerakan
Selain ulet sebagai seorang wartawan muda, ia juga aktif dalam organisasi sosial dan politik. Sejak berdirinya Boedi Oetomo (BO) tahun 1908, ia aktif di seksi propaganda untuk menyosialisasikan dan menggugah kesadaran masyarakat Indonesia (terutama Jawa) pada waktu itu mengenai pentingnya persatuan dan kesatuan dalam berbangsa dan bernegara. Kongres pertama BO di Yogyakarta juga diorganisasi olehnya.
Soewardi muda juga menjadi anggota organisasi Insulinde, suatu organisasi multietnik yang didominasi kaum Indo yang memperjuangkan pemerintahan sendiri di Hindia Belanda, atas pengaruh Ernest Douwes Dekker (DD). Ketika kemudian DD mendirikan Indische Partij, Soewardi diajaknya pula.
Als ik een Nederlander was
Sewaktu pemerintah Hindia Belanda berniat mengumpulkan sumbangan dari warga, termasuk pribumi, untuk perayaan kemerdekaan Belanda dari Perancis pada tahun 1913, timbul reaksi kritis dari kalangan nasionalis, termasuk Soewardi. Ia kemudian menulis "Een voor Allen maar Ook Allen voor Een" atau "Satu untuk Semua, tetapi Semua untuk Satu Juga". Namun kolom KHD yang paling terkenal adalah "Seandainya Aku Seorang Belanda" (judul asli: "Als ik een Nederlander was"), dimuat dalam surat kabar De Expres pimpinan DD, 13 Juli 1913. Isi artikel ini terasa pedas sekali di kalangan pejabat Hindia Belanda. Kutipan tulisan tersebut antara lain sebagai berikut.
"Sekiranya aku seorang Belanda, aku tidak akan menyelenggarakan pesta-pesta kemerdekaan di negeri yang telah kita rampas sendiri kemerdekaannya. Sejajar dengan jalan pikiran itu, bukan saja tidak adil, tetapi juga tidak pantas untuk menyuruh si inlander memberikan sumbangan untuk dana perayaan itu. Ide untuk menyelenggaraan perayaan itu saja sudah menghina mereka, dan sekarang kita keruk pula kantongnya. Ayo teruskan saja penghinaan lahir dan batin itu! Kalau aku seorang Belanda, hal yang terutama menyinggung perasaanku dan kawan-kawan sebangsaku ialah kenyataan bahwa inlander diharuskan ikut mengongkosi suatu kegiatan yang tidak ada kepentingan sedikit pun baginya".
Beberapa pejabat Belanda menyangsikan tulisan ini asli dibuat oleh Soewardi sendiri karena gaya bahasanya yang berbeda dari tulisan-tulisannya sebelum ini. Kalaupun benar ia yang menulis, mereka menganggap DD berperan dalam memanas-manasi Soewardi untuk menulis dengan gaya demikian.
Akibat tulisan ini ia ditangkap atas persetujuan Gubernur Jenderal Idenburg dan akan diasingkan ke Pulau Bangka (atas permintaan sendiri). Namun demikian kedua rekannya, DD dan Tjipto Mangoenkoesoemo, memprotes dan akhirnya mereka bertiga diasingkan ke Belanda (1913). Ketiga tokoh ini dikenal sebagai "Tiga Serangkai". Soewardi kala itu baru berusia 24 tahun.
Dalam pengasingan
Dalam pengasingan di Belanda, Soewardi aktif dalam organisasi para pelajar asal Indonesia, Indische Vereeniging (Perhimpunan Hindia).
Di sinilah ia kemudian merintis cita-citanya memajukan kaum pribumi dengan belajar ilmu pendidikan hingga memperoleh Europeesche Akte, suatu ijazah pendidikan yang bergengsi yang kelak menjadi pijakan dalam mendirikan lembaga pendidikan yang didirikannya. Dalam studinya ini Soewardi terpikat pada ide-ide sejumlah tokoh pendidikan Barat, seperti Froebel dan Montessori, serta pergerakan pendidikan India, Santiniketan, oleh keluarga Tagore. Pengaruh-pengaruh inilah yang mendasarinya dalam mengembangkan sistem pendidikannya sendiri.
Taman Siswa
Soewardi kembali ke Indonesia pada bulan September 1919. Segera kemudian ia bergabung dalam sekolah binaan saudaranya. Pengalaman mengajar ini kemudian digunakannya untuk mengembangkan konsep mengajar bagi sekolah yang ia dirikan pada tanggal 3 Juli 1922: Nationaal Onderwijs Instituut Tamansiswa atau Perguruan Nasional Tamansiswa. Saat ia genap berusia 40 tahun menurut hitungan penanggalan Jawa, ia mengganti namanya menjadi Ki Hadjar Dewantara. Ia tidak lagi menggunakan gelar kebangsawanan di depan namanya. Hal ini dimaksudkan supaya ia dapat bebas dekat dengan rakyat, baik secara fisik maupun jiwa.
Semboyan dalam sistem pendidikan yang dipakainya kini sangat dikenal di kalangan pendidikan Indonesia. Secara utuh, semboyan itu dalam bahasa Jawa berbunyi ing ngarso sung tulodo, ing madyo mangun karso, tut wuri handayani. ("di depan memberi contoh, di tengah memberi semangat, di belakang memberi dorongan"). Semboyan ini masih tetap dipakai dalam dunia pendidikan rakyat Indonesia, terlebih di sekolah-sekolah Perguruan Tamansiswa.
Pengabdian pada masa Indonesia merdeka
Patung Ki Hajar Dewantara
Dalam kabinet pertama Republik Indonesia, KHD diangkat menjadi Menteri Pengajaran Indonesia (posnya disebut sebagai Menteri Pendidikan, Pengajaran dan Kebudayaan) yang pertama. Pada tahun 1957 ia mendapat gelar doktor kehormatan (doctor honoris causa, Dr.H.C.) dari universitas tertua Indonesia, Universitas Gadjah Mada. Atas jasa-jasanya dalam merintis pendidikan umum, ia dinyatakan sebagai Bapak Pendidikan Nasional Indonesia dan hari kelahirannya dijadikan Hari Pendidikan Nasional (Surat Keputusan Presiden RI no. 305 tahun 1959, tanggal 28 November 1959).
Ia meninggal dunia di Yogyakarta tanggal 26 April 1959 dan dimakamkan di Taman Wijaya Brata.




KAMUS MINI BAHASA JERMAN


Monarch      = Raja
Monarchie    = Kerajaan
Morgen       = Besok
Multone       = Tong sampah
Man           = Orang

Neun          = Sembilan
Neger         = Orang negro
Niesen        = Bersin
Nun           = Sekarang
Neu           = Baru

Ort                = Tempat                              Oben                    = Diatas
Ohr               = Telinga                              Oder                     = Atau
Obst              = Buah-buahan                      Oper                     = Opera









Tips Agar Tidak Jenuh dalam Belajar


Pernakah teman-teman merasakan jenuh untuk belajar?Nah,kebetulan aku mempunyai tips agar tidak jenuh,caranya begini:
1. Membasuh Wajah

                Saat merasa kantuk dan malas menyerang,basuhlah wajah agar teman-teman merasa segar kembali!Kemudian,rileks sebentar sambil menghirup napas dalam-dalam dan hembuskan pelan-pelan agar otak kita mendapat oksigen maksimal.Dengan demikian,kita pun jadi segar dan semangat kembali untuk belajar.

2. Berbincang Dengan Seseorang

Kalau kita mulai merasa malas,kita datangi seseorang yang kita kenal akrab,lalu berbincang sebentar dengannya.Ingat,tujuan kita untuk menyegarkan pikiran dan perasaan,bukan untuk mengobrol apalagi mengrumpi.

3. Beristirahat

Cara lainnya,saat kita mulai merasa jenuh,kita bisa refresing sebentar.Kita bisa tidur sebentar untuk memulihkan energy yang hilang dari tubuh kita dan tubuh kita akan menjadi lebih segar.

 
4.Jangan diam saja

         Rasa jenuh akan hilang jika kita tidak berdiam diri.Kita bisa mengubah posisi duduk,berpindah ruangan,atau berdiri sebentar sambil menggerakkan badan,lengan dan kaki kita.Nah,kalau sudah merasa badan lebih segar,kita belajar kembali.

5. Melihat Pemandangan yang Cukup Indah

Jika rasa jenuh muncul kembali,cobalah cara yang satu ini.Lihatlah pemandangan disekitar lingkunganmu yang cukup indah dan menyejukkan mata,denngan begitu rasa jenuh dan malas akan hilang,dan kita akan segar kembali.



JADI BEGITU CARA MENGHILANGKAN RASA JENUH DALAM BELAJAR.SEMOGA BELAJAR KALIAN AKAN

LEBIH MENYENANGKAN…..

By. Salsabila Ghina Nuraini

Kelas VI Putri SDIT Tunas Mulia