Kamis, 20 Desember 2012

Sejarah Awal Mula konflik Palestina


 KONFLIK ISRAEL PALESTINA MUNGKINKAH BERAKHIR?
Mei – April 1948
14 Mei 1948, di bumi Palestina, Israel memproklamirkan kemerdekaan negara Israel. Sebuah kemerdekaan yang sejak awal patut dipertanyakan, merdeka dari siapa? Peristiwa yang bersejarah itu, menjadi tonggak berdirinya negara yang penuh darah di negeri Islam yang diberkati Allah SWT itu. Penderitaan umat Islam Palestinapun tak terperikan. Saat berdiri, Israel mengusir sekitar 1 juta warga Palestina, merampas hak milik warga Palestina, mencaplok puluhan kota dan ratusan desa. Teror dan pembantaian terjadi dimana-mana. Terjadilah peristiwa Deir Yasin 10 April 1948 sekitar 254 muslim Palestina terbunuh 100 diantaranya adalah anak-anak dan wanita). Unit 101 yang didirikan Moshe Dayan, menteror warga Palestina. Pada tahun 1948 tercatat 385 dari 475 desa Palestina  dibuldoser sehingga rata dengan tanah.
Juni 1967 – Oktober 1979
7 Juni 1967 Yahudi merampas bagian timur kota al-Quds; merampas kunci-kunci pintu barat Masjid al-Aqsha. 21 Agustus 1969 Teroris Yahudi, Danis Rohan, merangsek masuk ke halaman Masjid al-Aqsha, dan berhasil memasuki mihrab. Pada 9 September 1972 terjadi serangan udara di Suriah, dengan target para pengungsi Palestina, sekitar 500 orang meninggal dunia. Pada tahun 1974, Israel berada di balik pembantaian sekitar 15 ribu warga Palestina di Kamp Pengungsi Tel Zataar. Para pengungsi malang tersebut dibantai oleh milisi Kristen garis keras yang dipersenjatai dan dibina Pemerintah Buruh Israel. Israel juga menyerang Lebanon pada 9 november 1977, sekitar 300 orang terbunuh. 14 Agustus 1979 Ghorshon Salomon, kelompok radikal Yahudi, merangsek masuk ke Masjid al-Aqsha, meski gagal. 11 Oktober 1979 Polisi Israel melepaskan tembakan dan gas air mata terhadap jamaah shalat sehingga banyak yang terluka.
April 1980 – Mei 1989
19 April 1980 Para pendeta Yahudi mengadakan kongres di al-Aqsha. 28 Agustus 1981 Yahudi menggali terowongan di bawah halaman Masjid al-Aqsha. 20 Maret 1982 Berbagai kelompok Yahudi radikal memanfaatkan hasil kongres pendeta Yahudi di atas untuk mengirimkan ancaman terhadap Kementerian Waqaf Islam. 11 April 1982 Teroris Yahudi, Goldman, merangsek memasuki masjid lewat pintu al-Ghawanemah. Dia pun mengancam akan merobohkan Masjid Qubbah Shakhra. Pada bulan Juni 1982 terjadi serangan terhadap kamp pungungsi yang menewaskan 3500 orang sebagian besar adalah anak-anak dan wanita. Sabra dan Satila menjadi saksi bisu kekejaman Israel, saat negara itu dengan bantuan milisi kristen Lebanon membantai lebih dari 100 orang pengungsi Palestina. Di tahun ini 18 ribu orang tewas dan 30 ribu lainnya cedera menjadi korban. 20 Januari 1983 Organisasi Yahudi Amerika menggalang dana untuk mendirikan haikal di atasnya. 26 Mei 1983 Bangunan Kementerian Waqaf Islam roboh setelah digali terowongan di bawahnya. 21 Agustus 1985 Kepolisian Yahudi mengizinkan pelaksanaan ritual Yahudi di Masjid al-Aqsha jika ada minimal 10 orang yang memintanya. 2 Juli 1988 Departemen Agama Israel menggali terowongan di dekat pintu al-Ghawanemah; Mahkamah Israel mengizinkan warganya menunaikan ritual di Masjid al-Aqsha. Selama intifadha hingga Mei 1989 sekitar 7500 muslim Palestina terbunuh. Dan pembunuhan demi pembunuhan terjadi hingga sekarang ini. Pasca Konferensi Perdamaian Annapolis november tahun lalu 350 orang warga Palestina yang terbunuh.
Juli 1996 – Agustus 1999
27 Juli 1996 Kelompok Yahudi yang menyebut dirinya sebagai ‘Penjaga Haikal’ merangsek ke halaman Masjid al-Aqsha. 25 September 1996 Terowongan digali di bawah masjid suci itu. 13 Mei 1998 Sejumlah pemukim Yahudi melakukan pembakaran terhadap salah satu pintu utama masjid tersebut. 10 Agustus 1999 Yahudi melakukan penutupan terhadap jendela dinding masjid di bagian selatan, yang menyebabkan penerangan di masjid tersebut gelap gulita.
Agustus 2001
Pada Jumat dini hari (10/8) tentara Israel menduduki Orient House, gedung legendaris milik Palestina di Yerusalem Timur, dan mengibarkan bendera Israel di atas gedung tersebut, serta menahan tujuh penghuninya. Israel juga mengambilalih secara paksa sembilan kantor Palestina di Abu Dis yang berdekatan dengan kota Yerusalem Timur. Abu Dis dirancang oleh otoritas Palestina sebagai pusat kantor parlemen Palestina. Dan mereka menjadikan gedung Orient House sebagai simbol keberadaannya di Yerusalem Timur.
Maret 2004
Syaikh Yasin, pendiri Hamas berusia 67 tahun yang tidak pernah lepas dari kursi roda, dibunuh secara brutal melalui serangan udara Israel sesaat setelah keluar dari masjid usai shalat Shubuh di Jalur Gaza 22 Maret. belum sebulan kemudian, Abdul Aziz ar-Rantissi, pengganti Syaikh Yassin, juga mengalami hal yang sama.
Desember 2008
Israel sang negara teroris sekali lagi membantai muslim di Gaza, padahal pejabat Israel telah membocorkan informasi tentang akan adanya serangan sejak dua minggu lalu dimana tidak akan ada siapapun yang selamat. Bahkan pejabat Israel juga menyebutkan bahwa Israel menunggu cuaca yang baik agar bisa membantai dengan baik.  Pada Sabtu pagi tanggal 27 Desember di tengah hiruk pikuk kesibukan, pembantaian di mulai.
Gelombang serangan pertama terjadi secara terkoordinasi dalam tempo 3 menit dengan melibatkan 60 jet F-16 menyerang 50 titik target infrastruktur Gaza yang masih tersisa. Gelombang kedua menghancurkan markas HAMAS (perlu diingat bahwa markas tersebut terletak di tengah populasi warga sipil). Dalam satu jam serangan pertama, 155 korban tewas dan jenazah korban terus berdatangan dan memenuhi rumah sakit.
Israel membenarkan aksinya sebagai tanggapan terhadap tingkat serangan roket terhadap wilayahnya yang diluncurkan dari Gaza. Menlu Israel Tzipi Livni membela serangan udara ini dengan berkata dalam siaran TV, “Israel tidak punya pilihan. Kami melakukan apa yang kami harus lakukan untuk melindungi warga kami.” Israel menuduh HAMAS, yang memenangkan pemilu 18 bulan lalu dan didukung oleh Iran, sebagai pihak yang bertanggungjawab terhadap serangan roket ini.
Israel memang selalu mengkambinghitamkan HAMAS sebagai kelompok Islam radikal yang bertujuan menghapus Israel, padahal Israel telah memblokade Gaza sejak lama. Secara rutin, Israel menutup jalur penyeberangan perbatasan menuju Gaza, yang berakibat pada kelaparan massal. Dalam sebulan terakhir, penyeberangan menuju ke Gaza dibuka selama 5 hari saja. Perwakilan PBB untuk Gaza menggambarkan situasi yang menyedihkan sebagai berikut,”Tiap hari adalah perjuangan untuk tetap bertahan hidup. Warga benar-benar kelaparan. Semua serba kekurangan, termasuk makanan yang sempat habis selama dua hari, dan fakta yang semakin memburuk yang bisa berakhir kepada kepahitan… kami berusaha keras mencari alasan untuk memiliki harapan yang realistis.”
Tanggapan dunia pun sudah bisa diduga. Israel tetap menjadi anak favorit bagi Barat. PM Inggris Gordon Brown dalam wawancara dengan BBC mengatakan bahwa ia ‘sangat prihatin’ dan mengatakan bahwa milisi Palestina harus menghentikan serangan roket terhadap Israel, meskipun Palestina adalah pihak yang diserang dan Muslim dibantai.
Dalam wawancara dengan Al-Jazeera, Azzam Tamimi, direktur Institut Pemikiran Politik Islam (Institute of Islamic Political Thought) dan pakar masalah Palestina, menggambarkan pengamatannya sebagai berikut, ” Saya duga operasi militer ini tidak hanya terbatas tapi juga berusaha untuk mengganti penguasa di Gaza, kalau tidak, kenapa Israel juga mentargetkan jajaran kepolisian? Yang menembakkan roket di Israel bukanlah para polisi dan  polisi bertugas untuk menjaga keamanan di Gaza. Operasi ini ditujukan untuk menciptakan kekacauan dan kemungkinan besar Mesir dan Ramallah berkolusi dalam hal ini. Tidak mungkin berani Israel melancarkan serangan dalam skala sebesar ini tanpa adanya ijin dari kalangan tertentu, seperti Amerika, Eropa, dan juga Mesir dan Ramallah.”
Itulah beberapa konflik yang dilahirkan oleh Negara teroris Israel, mungkinkah konflik yang menewaskan kaum muslimin Palestina ini akan berakhir? Sampai berapa nyawa lagi harus terbunuh oleh kekejaman Israel di bumi Palestina? Berapa banyak perundingan lagi harus disahkan agar Muslimin Palestina dapat merasakan hidup tenang dan aman?
Sungguh, konflik serupa akan terus terjadi, banyak nyawa manusia akan terbunuh, dan berbagai macam perundingan hanya akan membuat larut penyelesaian permasalahan ini. Hadis Rasulullah saw. yang dituturkan Abdullah bin ‘Amru, bahwa Nabi saw. bersabda:
 Sungguh, lenyapnya dunia ini lebih ringan bagi Allah daripada membunuh jiwa seorang Muslim
(HR at-Tirmidzi, an-Nasa’i dan Ibn Majah; lafazh menurut at-Tirmidzi).
 Sudah saatnya kaum muslimin yang ada di 57 negara anggota OKI dan yang berada di Negara-negara lainnya bersatu padu untuk untuk menegakkan satu kepemimpinan Negara Khilafah Islamiyah sebagaimana dulu dicontohkan oleh Rasulullah, para khulafaur rasyidin, dan para khalifah. Karena hanya dengan negara yang diridhoi Allah inilah penyelesaian tragedi Palestina dapat diselesaikan dengan pelaksanaan Jihad secara terorganisir.